|
PERAN ULAMA DAN MASJID ABAD 20 DI KOTA PALEMBANG |
|
Di dalam buku Kaum Tuo-Kaum Mudo; Perubahan Religius di Palembang 1821-1942, Jeroen Peeters menulis, “Sebelum tahun 1925, pengajaran agama di Palembang masih bersifat tradisional. Pengajaran hanya diberikan dilanggar dan masjid kepada kelompok murid dari usia yang berbeda-beda.” Hal ini membedakan peran ulama Sumatera Selatan dengan ulama di Jawa yang mendirikan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pertahanan Islam. Menurut sejarawan Zulkifli, peran ulama bebas Sumatera Selatan pada zaman kolonial yakni mendirikan langgar dan masjid dalam rangka penyelenggaraan pendidikan Islam. Jadi, peran masjid di kota Palembang, pada awal abad 20, sama posisinya dengan pesantren seperti yang ada di Jawa, sebagai tempat belajar mengajar agama dan pusat kegiatan dakwah.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
PALEMBANG KOTA 1001 MASJID |
|
Sebuah kota yang berbudaya dan beradab biasanya memiliki keunikan atau kekhasan. Masyarakat mengenalnya melalui julukan atau pemberian predikat tertentu kepadanya. Kota Kairo dipenuhi dengan masjid maka dari itu, Kairo dijuluki sebagai kota seribu menara. Lombok terkenal dengan julukan pulau seribu masjid. Palembang selain terkenal sebagai kota internasional dan sungai Musi, juga merupakan daerah dimana penduduknya sangat religi. Terlihat dari berdirinya masjid-masjid bersejarah yang mengelilingi kota Palembang .
Masjid Agung SMB, berada tepat di jantung kota Palembang (sebelah jempatan Ampera) seakan menjadi tanda bahwa masjid merupakan bangunan yang vital dan strategis. Masjid Kyai Muara Ogan di daerah Kertapati seakan menjadi pintu gapura menuju kota Palembang , Masjid Lawang Kidul di kelurahan 5 Ilir bak pintu gerbang dari arah laut selat Bangka . Ketiga masjid ini posisinya strategis di pinggir sungai Musi seakan memberi isyarat bahwa wong Palembang tidak boleh meninggalkan masjid. Mereka boleh melakukan aktifitas perniagaan di atas sungai Musi namun ketika masuk waktu shalat harus bersegera menuju masjid.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Masjid Peninggalan Kiai Marogan; Objek Wisata Mendukung Visit Musi 2008 |
|
"Bagi penganut agama Islam di Sumatera Selatan Khususnya di Palembang keberadaan Masjid Kiai Marogan jadi bukti kebesaran Ilahi dan wisata sungai yang menakjubkan".
Keberadaan Masjid peninggalan Kiai Marogan Palembang sebagai salah satu kawasan wisata religi di Indonesia khususnya Sumatera Selatan sudah tak terbantahkan lagi. Pamor Masjid Jami’ Muara Ogan dan masjid Lawang Kidul, yang telah diwakafkan untuk umat Islam ini, mampu mengundang ribuan pengunjung dari dalam maupun luar kota Palembang, seperti Lampung, Jambi, Jakarta dan Pulau Jawa. Tak jarang pada momen-momen khusus seperti hari Jum’at, pada bulan Sya’ban dan pada saat peringatan Haul Kiai Marogan pada Bulan Rajab, pengunjung lebih banyak dari biasanya. Mereka datang ada yang sekedar sholat berjama’ah, I’tikaf, ataupun berziarah ke makam Kiai Marogan yang terletak satu kompleks dengan Masjid. Di antara yang datang itu mulai dari masyarakat biasa, para Alim Ulama, Pengusaha, bahkan pejabat seperti Walikota, Gubernur, tokoh politik Taufiek Kiemas, bahkan sebelum menjadi Presiden RI, sewaktu masih menjadi Pangdam II Sriwijaya, Bapak Susilo Bambang Yudoyono pernah sholat dan berziarah ke makam Waliyullah tersebut.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 7 dari 14 |